HomenewsYou Are Here

Kelapa Sawit Semakin Berkelanjutan dengan Revolusi Industri 4.0

21/11/2020 441 Readers

Industri 4.0 adalah inovasi dan teknologi yang berperan dalam meningkatkan produktivitas. Penerapan teknologi akan memperkuat keberlanjutan industri, termasuk industri sawit.

Pernyataan tersebut disampaikan Edwin Syahputra Lubis, Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), PT Riset Perkebunan Nusantara, pada keterangan pers, Rabu (30/9).

Industri kelapa sawit 4.0 didasarkan pada penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi (didorong oleh inovasi) dengan mengintegrasikan komponen-komponen utama yaitu big data, kecerdasan buatan, interaksi manusia mesin, digital fisik dan bioteknologi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, nilai tambah, inklusivitas dan untuk meminimalkan polusi atau emisi secara berkelanjutan.

"Industri minyak sawit 4.0 merupakan metode produksi baru yang dapat membawa kita mencapai tujuan pembangunan industri berkelanjutan," kata Edwin.

Tujuan revolusi industri sawit 4.0 adalah meningkatkan pendapatan global, meningkatkan kualitas hidup stake holder sawit dan memberikan keuntungan efisiensi dan produktivitas jangka panjang serta sawit yang lestari.

"Tujuannya untuk memudahkan pekerjaan, bukan menghilangkan pekerjaan. Supaya stake holder sawit naik kelas dari bekerja kasar di kebun jadi manager yang mengatur dengan digitalisasi," katanya.

Strategi sukses memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan revolusi industri sawit 4.0 adalah penggunaan teknologi digital dan inovasi, harmonisasi aturan dan kebijakan sebab inovasi sering tidak sesuai dengan aturan, dan perluas jaringan bisnis industri sawit.

Inovasi teknologi perlu biaya besar sehingga harus menarik investor dari luar. Peningkatan kualitas SDM dan budaya kerja, tanpa ini maka tidak akan berjalan dan perbaikan alur barang dan material. Penerapan pada industri sawit,dimulai dari hulu yaitu teknologi benih, dengan sistem barcode mampu menelusuri riwayat dari mana bahan asal tanaman berasal.

"Teknologi budi daya, sistim pemeliharaan dan panen terekam secara digital memalui Internet of Things. Setiap TBS yang dihasilkan terekam secara digital kapan waktu panen, asal blok, nama pemanen, riwayat tanaman, perawatannya dan lain-lain," tuturnya.

Teknologi pengolahan, semua bagian dari lini produksi yang berbeda dapat dihubungkan melalui IoT secara terintegrasi melalui Integrated Circuits yang memungkinkan pengindraan, pengukuran, kontrol, dan komunikasi untuk segala sesuatu yang terjadi selama proses produksi.

"Impelementasinya adalah dengan digitalisasi manajemen perkebunan, deteksi kematangan buah sawit, ERP dalam manajemen produksi di PKS dan pengelolaan proses smart industry di hilir," jelas Edwin.

Digitalisasi manajemen perkebunan meningkatkan efisiensi waktu dan biaya. Dengan teknologi digital tidak perlu lagi membuat data statistik yang dikumpulkan dari sejumlah kebun sawit secara manual, dapat mengambil foto TBS, lokasi kebun secara presisi dapat diakses melalui GPS.

Tak hanya itu, para manager lapangan dapat dengan mudah melacak dan memantau aktivitas dari kebun secara real time, mudah dalam mentransfer data dari lapangan dan membuat laporan mengenai kualitas buah sawit; memudahkan dalam mendata kehadiran karyawan dan pekerja lapangan kemudian diolah untuk keperluan pengupahan dan intensif.

"PPKS sendiri sudah menerapkan teknologi 4.0 lewat smart product PPKS yaitu varietas unggul berkarakter, cost reduction technology, teknologi penurunan ALB (CPO premium), implementasi smart factory, precision farming, dan development product," tutur Edwin.

Keywords: