HomenewsYou Are Here

Sawit Berkelanjutan, Kuncinya Sains dan Teknologi

21/11/2020 568 Readers

Sains dan teknologi bisa menjadi kunci untuk kelapa sawit berkelanjutan asalkan benar-benar dilakukan dengan kaidah ilmiah, sesuai etika, dan tidak bias. Hal itu terungkap dalam paparan pembukaan International Conference on Oil Palm and Environment ke-6 yang diadakan di Denpasar, Bali, Rabu (25/4/2018) hingga Jumat (27/4/2018).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, kelapa sawit saat ini sering dipersalahkan sebab dampak lingkungannya.

Sawit tak bisa dipungkiri menjadi sebab utama kebakaran hutan dan lahan. Namun, meninggalkan kelapa sawit tidak mungkin karena komoditas itu menjadi sumber devisa. Selain itu, minyak kelapa sawit juga menjadi kandidat pertama untuk pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia.

"Sawit paling efisien, membutuhkan lahan lebih sedikit dibandingkan dengan minyak nabati seperti rapeseed, bunga matahari, dan kedelai," kata Darmin kepada para wartawan.

Menurut Darmin, kepala sawit mampu menghasilkan 12 ton dengan lahan 21,5 juta hektar, sementara kedelai perlu 45,8 juta hektar untuk menghasilkan 0,4 ton minyak kedelai.

Aditya Bayunanda, Direktur Kebijakan, Keberlanjutan, dan Transformasi WWF Indonesia mengutarakan bahwa yang perlu diupayakan adalah kelapa sawit berkelanjutan.

"Inovasi dan teknologi menjadi kunci. Intensifikasi, dan bukan ekstensifikasi, bisa berperan membuat sawit menjadi produk yang lebih berkelanjutan," katanya.

Indonesia yang terletak di wilayah tropis bukan hanya punya tekanan ekonomi meningkatkan jumlah devisa, tetapi juga tekanan untk melestarikan kekayaan biodiversitasnya. Untuk itu, Aditya mengatakan bahwa upaya mendapatkan uang dari komoditas kelapa sawit harus sejalan dengan usaha pelestarian lingkungan.

Terkait inovasi dan teknologi, President Director Sinarmas Agribusiness and Food Daud Dharsono mengatakan bahwa pihaknya telah menjalin kerjasama riset dengan Pusat Penelitian Pertanian Perancis (CIRAD).

Kerjasama riset dilakukan dengan mekanisme co-funding. ICOPE 2018 sendiri, kata Daud, bermaksud menjadi "tempat berdialog dan menemukan solusi berbasis ilmiah untuk sawit".

Kerjasama lembaga riset dan perusahaan swasta dalam isu kontroversial kerap diwarnai bias. Peneliti dari CIRAD mengatakan, pihaknya menjaga independensi walaupun menerima pendanaan dari Sinarmas.

Alain Rival, Regional Director for Insular South East Asia mengatakan, "kerjasama riset dengan perusahaan memang tricky. Bisa bias. Anda hanya harus tahu dan mengelolanya."

Rival mengatakan, salah satu caranya mengelola bias adalah dengan melakukan riset dan sama di beberapa tempat, bukan hanya di Sinarmas, sehingga hasilnya bisa dibandingkan.

Keywords: epcs, ekomoditi, digital